CERPEN DUA PENUMPANG PEREMPUAN

 

(Gambar By Pixabay.com)


 

 Sudah lewat seminggu lebih aku pendam perasaan ini. perasaan yang sering kali menghantui. Perasaan tak mengenakkan ini sepertinya bisa terselesaikan jika aku harus berhenti bekerja sebagai seorang jasa antar sopir online. Dan sebelum aku putuskan untuk berhenti, sepertinya mobil itu harus aku jual untuk kujadikan modal berdagang. Tapi, apakah keputusanku ini mendapat dukungan dari istriku? Sebab sepertinya ia sangat menyukai mobil itu. Karena bagaimana pun mobil itu adalah warisan dari almarhum ayahnya.

Pada pagi hari sebelum kuputuskan untuk mengutarakan keinginanku, aku putuskan untuk mencuci mobil terlebih dahulu. Kuharap dengan begitu istriku tidak akan menaruh rasa curiga kalau nantinya ia akan mengetahhui keinginanku untuk menjual mobil warisan itu.

“Bagaimana menurutmu jika aku berhenti bekerja, Mah?”

“Maksud, Papah, sudah lelahkah bekerja?”

“Bukan begitu. Tapi, aku hendak beralih profesi.”

“Sebagai apa?”

“Saudagar.”

“Sedang bermimpikah, Papah? Modal darimana memangnya? Bukankah syarat menjadi saudagar harus memiliki modal yang cukup.”

“Nah, itu dia masalahnya. Niatnya Papah hendak menjual mobil itu, Mah.”

“Ngawur, Kamu, Pah. Itukan warisan dari almarhum ayahku. Mengapa punya keinginan demikian? Bukankah mobil itu membawa berkah di keluarga kita? Tanpa mobil itu darimana kita bisa bertahan hidup untuk memperoleh rejeki?”

“Papah merasa akan celaka jika harus terus berlanjut menjadi penerima jasa sopir online, Mah.”

“Mengapa punya pikiran seperti itu? Sudah waskitokah, Papah, hingga bisa membaca masa depan?”

“Tidak, Mah. Ini lebih ke sebuah peristiwa yang sering kali datang akhir-akhir ini secara berurutan. Dan dari situ firasat Papah mengatakan harus berhenti jika tidak ingin celaka.”

“Peristiwa apa?”

“Mengerikan. Jika Papah ceritakan kisah ini, apakah Mamah berkenan untuk mengizinkan mobil itu dijual?”

“Ceritakan dulu, dong! Baru nanti Mamah pertimbangkan. Lagian mana ada seorang istri yang sudi suaminya celaka.”

“Baiklah.”


***


Minggu-minggu ini, orderan penumpang sangat banyak mampir ke aplikasiku. Beragam orang beserta segala persoalannya dengan sepenuh hati kuantarkan ke mana mereka inginkan. 

Pertama-tama aku pikir itu hal yang wajar bagi seorang sopir sepertiku mendengarkan segala peristiwa dan permasalahan yang menimpa orang lain, terutama semua penumpangku. Tapi, lama-kelamaan cerita mereka menjadi semacam bayang-bayang jahat yang sering menghantui hidupku. Bermula dari salah seorang penumpang perempuan muda yang sedang hamil muda bersama salah satu teman lelakinya yang hendak kuantar ke salah satu tempat, yang pada akhirnya kuketahui mereka hendak menggugurkan kandungan itu.

“Aku malu, Yang, kalau sampai kedua orang tuaku tahu bahwa aku hamil.”

“Ssstt… jangan keras-keras bicaranya, Yang. Tidak enak kalau didengar sama abangnya.”

“Tidak mengapa kan, Bang. Lagian kita juga tidak saling kenal. Dan urusan kita juga tidak ada kaitannya sama abangnya.”

“Santai saja, Mas, Mbak. Tugas saya hanya mengntar kalian ke tempat yang hendak kalian tuju dengan selamat. Tidak kurang dan lebih. Privasi kalian juga dijamin aman. Saya pun bukan intel yang suka menyamar jadi apa pun.” Ujarku meyakinkan mereka. 

“Tuh, dengar, Yang. Tenang saja. Abangnya tidak punya hak ikut campur urusan kita.”

“Tersarah, Kamu saja, Yang.”

Selanjutnya obrolan mereka pun begitu riuh. Seakan di mobil hanya ada mereka berdua. Teriakan-teriakan kadang kala menjadi irama sayat yang keluar dari mulut si perempuan. 

“Ternyata kamu mau membawaku ke tempat pengguguran janin, Yang. Sialan, yah, Kamu. Aku pikir kamu hendak membawaku ke rumahmu untuk diperkenalkan ke kedua orang tuamu.”

“Tenang dulu. Jangan teriak-teriak begitu. Aku belum siap menikah, Yang. Kitakan masih sama-sama sekolah. Bisa habis aku kalau membawamu ke rumahku. Apalagi tahu kalau kamu sedang hamil.”

“Oh, jadi kamu tidak mau mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku!”

“Bukan begitu. Aku tetap akan mengawinimu tapi tidak sekarang. Pasti selepas aku lulus sekolah nanti dan sudah bekerja, kamu akan aku nikahi.”

“Cukup! Dasar lelaki pengecut. Habis menghamiliku tidak ingin bertanggung jawab, malah mengajakku ke tempat aborsi. Lelaki macam apa kamu, hah!” Tamparan keras pun tidak dapat dielakkan yang tepat mengarah ke muka lelaki itu. Setelah mendapat tamparan dari perempuannya, lelaki itu pun menjadi naik pitam balik menjambak rambut perempuan itu.

“Heh, Jalang! Kamu pikir aku mensetubuhi dirimu atas dasar kemauanku sendiri? Bukankah kamu juga menikmatinya saat itu! Lagian siapa suruh kamu mau kuajak kencan di kos-kosan temanku saat itu! Jangan kau sudutkan aku begitu saja tanpa kau pikir sendiri dirimu itu siapa! Aku pun tahu bahwa aslinya kamu sudah tidak perawan. Jadi untuk apa aku terlalu bersih pacaran denganmu.”

Perempuan itu menangis dalam ketidakberdayaannya. Sementara lelaki itu masih mengganggam rambut perempuan itu dengan amat kuat.

“Niatku itu baik membawamu ke tempat itu agar tidak ada yang mengetahui bahwa kamu itu Jalang! Dan kalau kamu tidak mau silahkan, aku tidak peduli. Toh, yang bakalan malu adalah kamu bukan aku.”

Melihat kejadian itu dari pantulan kaca spion dalam mobil, aku seakan merasa bersalah jika membiarkan hal itu terus terjadi. Melihat seorang perempuan tak berdaya diperlakukan seperti itu, seakan keadilanku hendak bertindak. Namun, sikap itu tercegah atas dasar profesionalitas sebagai seorang yang bekerja sebagai sopir pengantar penumpang. Tapi, kejadian itu sangat mengerikan jika terus dibiarkan begitu saja.

“Teruskan saja, Bang nyupirnya. Lebih baik Abang melihat jalan daripada melihat kami berdua. Apakah Abang hendak melerai kami berdua dan berubah menjadi seorang pahlawan bagi perempuan jalang ini, hah!” Dan kualihkan kembali fokusku ke jalan. Bukankah salahku sendiri sedari awal yang bilang tidak akan ikut campur urusan mereka berdua.

***

“Adakah penumpang yang lebih mengerikan lagi dari itu, Pah? Sepertinya itu sudah hal lumrah dan resiko yang harus, Papah ambil bukan?”

“Memang betul itu resiko yang harus Papah terima sebagai supir. Bukankah supir yang baik adalah supir yang lebih memprioritaskan keselamatan penumpangnya hingga sampai tujuan yang dituju. Tapi, melihat hal itu nurani Papah bergejolak ingin mencegahnya, Mah.”

“Yah, itu sih hal wajar manusiawi. Intinyakan niat Papah bekerja untuk menafkahi keluarga, bukan malah ikut urusan orang lain yang malah akan menjadi bumerang bagi Papah di kemudian hari.”

“Itu dia masalahnya. Papah takut nurani Papah tidak terkontrol hingga terseret dalam urusan mereka. Dan akhirnya Papah ikut celaka.”

“Alasan semacam itu masih belum bisa Mamah terima, jika Papah hendak berhenti bekerja dan menjual mobil itu. Adakah kisah lain yang lebih mengerikan?”

“Ada jelasnya, Mah.”

“Ceritakanlah, Pah.”

***

Saat itu aku pernah mendapat pesanan malam hari. Kupikir biar sekalian pulang, apa salahnya mencari penumpang. Kunyalakan aplikasi dan benar saja notifikasi pesanan masuk. 

Pesanan itu datang dari tempat hiburan malam yang hendak pergi menuju salah satu apartement A yang sejalur dengan arahku pulang. Kuterima pesanan itu tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.

Sesampainya di pinggir jalan, tepat di depan tempat hiburan malam itu, salah satu pria berperawakan tinggi dan berbadan besar dengan memakai seragam menghampiriku.

“Selamat malam. Ada keperluan apa, Pak?”

“Saya disuruh menjemput salah satu penumpang di titik ini. Lihat ini.” Kusodorkan handphone-ku padanya. Sekilas dia melirik dan menyuruhku untuk menunggu sebentar.

Tidak berselang lama tiga orang pemuda keluar dari dalam tempat hiburan malam itu seraya menggotong seseorang. 'Orang mabuk. Pantas saja tidak bisa berkendara sendiri untuk pulang.' Batinku.

Semakin mereka dekat, kulihat orang yang digotong itu adalah seorang perempuan. dengan rambut panjangnya terurai dan badannya yang mungil berbalut gaun malam, sepertinya perempuan itu mabuk berat.

Aku turun dari mobil dan membukakan pintu belakang. Setelah perempuan itu masuk dengan cara ditiduri di bangku belakang, salah satu pemuda yang sepertinya adalah pacarnya, mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan.

“Antarkan perempuan ini ke alamat yang sudahku berikan padamu, Pak. Jika nanti ditanyakan oleh petugas keamanan di tempat itu, bilang saja ini pesanannya bang Kipli. Bayarannya tenang saja, dijamin akan dapat berkali-kali lipat darinya, jika pesanan ini sampai padanya.”

“Maksud, Mas, dengan pesanan perempuan itu?”

“Sudahlah tidak usah banyak tanya, Pak. Bukankah tugas dari seorang jasa supir mengantarkan penumpang sampai ketujuan dengan selamat?”

Dan segera aku masuk ke dalam mobil. Kemudian mengendarai mobil dengan segala pertanyaan yang sangat mengganggu. 'Siapa perempuan ini? Sundalkah? Atau jangan-jangan ia orang baik-baik yang sedang dikerjai oleh teman-temannya. Tapi, mengapa mereka bilang perempuan ini sebagai pesanan? Masih adakah di zaman modern ini jual-beli manusia?' Atau aku bangunkan saja dia dan kutanyai siapa dirinya dan hendak ke mana tujuan aslinya? Benarkah tindakanku jika kuantar perempuan ini ke bang Kipli yang katanya sudah memesan perempuan ini? Apakah itu keinginan perempuan ini?' Pikiran-pikiran itu membuatku kurang fokus dalam berkemudi hingga tanpa sadar aku menerobos lampu merah. Dan sialnya, di ujung jalan perempatan lampu merah itu ada salah satu Polantas yang sedang berjaga. Dan tiba-tiba ia mengenakan helmnya dan menaiki motornya.

Kulihat dari arah spion sepertinya Polantas itu sedang mengejarku. Firasatku semakin buruk kalau-kalau Polantas itu melihat penumpangku seorang perempuan tertidur tak berdaya. Bisa-bisa aku dianggapnya orang jahat. Pembunuh mungkin. Dan benar saja, Polantas itu setelah sampai di samping mobilku, dia memberiku intruksi untuk melipir ke pinggir jalan.

“Selamat malam, Pak. Bisa tujukkan SIM dan STNK-nya?”

Kuambil dopetku dan menyerahkan apa yang ia minta. Sembari melihat SIM dan STNK-ku, mata polisi itu begitu awas melihat penumpangku. 

“Siapa perempuan yang tertidur itu? Istrikah atau anak, Bapak?”

“Saya supir online, Pak. Dan perempuan itu adalah salah satu penumpang saya. Dari permintaan temannya yang memesan jasa saya, mereka meminta saya mengantarkan perempuan itu ke salah satu apartement A. Kalau bapak tidak percaya, ini bisa lihat aplikasinya masih berjalan.”

Polantas itu meraih smartphone-ku dan mengamatinya sangat jeli. Sampai akhirnya Polantas itu melepasku pergi dengan pandangan curiga yang enggan ia lepaskan saat kuperhatikan dirinya dari pantulan kaca spion.

***

“Papah tidak sampai dibawa ke kantor polisikan?”

“Hampir, Mah.”

“Lalu, bagaimana masalah, Papah saat menerobos lampu merah? Apakah tidak kena tilang?”

“Sepertinya Polantas itu lupa kalau hendak menilang Papah gara-gara melihat perempuan itu.”

“Terus sampaikah perempuan itu ke bang Kipli yang katanya telah memesan perempuan itu?”

“Yah, sampai. Tapi Papah merasa berdosa harus menyerahkan perempuan itu pada seorang lelaki bertubuh tambun yang memiliki raut mencurigakan.”

“Itu bukan urusan Papah. Intinyakan papah mengantarkan penumpang dengan selamat sampai tujuan.”

“Tapi apakah perempuan itu benar-benar selamat, Mah? Papah merasa ada yang tidak beres dengan kondisi perempuan itu.”

“Sudahlah, Pah, itu bukan urusan kita.”

Tiba-tiba pintu rumah suami istri itu diketuk begitu keras. Mendengar ketukan itu keduanya saling bersitatap satu sama lain. Heran. Siapa yang pagi-pagi bertamu dengan cara yang kurang sopan begini. Tak ada salam, tak ada permisi, hanya suara ketukan keras pada daunpintu saja yang menandakan mereka hendak bertamu. Dan si istri bangkit dari duduknya menuju pintu untuk membukanya.

Setelah pintu terbuka, dua orang pria bertubuh kekar berpakaian jas kulit, calana jens dan bersepatu pantofel menyeruduk masuk tanpa berkata, dan langsunf menghampiri si suami, kemudian seketika meringkus si suami. Melihat kejadian itu, si istri hanya bisa diam terheran-heran. Suasana tegang dan hening, sampai keheningan itu dipecahkan oleh suara salah satu pria bertubuh kekar itu seraya memperlihatkan tanda pengenal.

“Atas nama pihak kepolisisam, bapak kami tahan atas tuduhan bersekongkol dengan salah seorang pembunuh. Dari hasil investigasi yang kami lakukan selama seminggu terakhir ini, salah satu petugas kami ada yang mengaku pernah melihat perempuan itu saat malam hari di sebuah mobil dengan plat nomor yang sesuai dengan plat nomor mobil bapak. Dan pastinya bapak sangat kenal bukan, dengan salah satu nama julukan Bang Kipli? Sekarang saya tanyakan kepada bapak, di mana si Kipli itu tengah bersembunyi?”

Posting Komentar

0 Komentar