CARA TERBAIK MENGUBAH NASIB ADALAH DENGAN MEMANDANG LANGIT YANG TERLALU PAGI || CERPEN WIWIT PUTRA BANGSA

 

(Gambar By Pixabay.com)


Di suatu desa pesisir terlihat lelaki paruh baya dengan tatapan penuh awas melihat situasi malam. Tidak ada senyum, lebih kepada rasa khawatir akan sesuatu. Sudah tiga kali lelaki paruh baya itu melewati jalan desa yang sama, hilir mudik. Matanya selalu tertuju kepada rumah cukup besar dibanding dengan lainnya pada jalan desa itu.




Bagi saya, alur jalannya kehidupan sudah tidak bisa dirubah. Ada yang beruntung terlahir menjadi kaya, dan mati dalam keadaan kaya raya. Memang sudah seperti itu jalannya. Lalu kamu, terlahir menjadi miskin, seberapa kuat mencoba pergi dari keadaan itu untuk mengubah nasib, jika takdirmu miskin, ya sudahlah, kamu akan mati dalam kemiskinan.

Seperti coding dalam pemrograman bukan? Atau seperti memori tersimpan dalam sebuah hardisk. Itu lah kurang lebihnya. 

Teman saya bilang, ketika saya menjelaskan perihal ini. Dia tidak terima, “takdir itu bisa dirubah!” katanya. Ya, kalau memang dia berusaha susah payah, bekerja keras, kaki menjadi kepala, kepala menjadi kaki, dan hasilnya ternyata sesuai dengan apa yang dia doakan. Bersyukur memang seperti itulah takdirnya. Seperti itu memori hidup yang tersimpan dalam hardisk jalan nasib. Bukan merubah takdir, memang itulah takdirnya.

Sangat luar biasa sekali, ketika seseorang dengan rapalan doanya mampu merubah segalanya. Saya ibaratkan dia adalah hacker, dapat meracau pemrograman yang sudah ada, dia mampu merubah coding nasibnya. Alur takdir yang dibuat penciptanya. Liar sekali pemikiran saya.

“Lalu apa gunanya doa!” 

Doa adalah jalan agar kamu punya harapan. Apa jadinya jika harapan itu tidak ada. Kamu bisa menjawabnya!

Tidak bisa? tetap tidak bisakan?

Kamu mungkin sudah mengerti tapi perlu sedikit penjelasan. Begini, kamu terlahir dari doa kedua orang tuamu. Lahirlah kamu dari penantian panjang bapak ibumu yang ingin memiliki anak. 

Tidak percaya, kamu adalah penantian panjang dan harapan kedua orang tuamu?

“Sudah hidup miskin, punya anak banyak. Menjadi beban pula! Harapan orang tua saya di mana yah?”

Bukan seperti itu. Cobalah untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Kehidupan, yaitu kamu. Kamu adalah kehidupan. Dari mana datangnya kamu?

Jika bapak ibumu tidak berharap punya anak. Kamu tidak ada. kamu tidak hidup. Kamu datang dari harapan bapak ibumu.

“Saya rasa, saya lahir karena hasrat nafsu bapak. Nafsu ingin menyatukan tubuh dengan ibu. Atau nafsu ibu yang ingin memeluk tubuh bapak.”

Baiklah, berarti sudut pandang kamu adalah nafsu. Begini, jika bapak atau ibumu tidak ada harapan untuk melampiaskan nafsunya. Apa kamu akan ada? Karena ada harapan nafsu itu maka munculah keinginan orang tuamu menyatukan tubuhnya dan kamu adalah bagian dari hasil atau dampak dari hasil pencapaian harapan bapak ibumu.

Entah itu alasan nafsu atau bapak ibumu yang ingin punya anak, keduanya punya satu sumber untuk menggerakkannya, yaitu harapan. 

Doa walaupun itu bagi saya adalah harapan, dan sudah saya jelaskan panjang lebar di awal, tidak mungkin bisa merubah apa yang sudah menjadi takdirmu. Tetapi dengan doa, kamu menjadi punya harapan, dengan harapan kamu akan tetap hidup. Hidup untuk apa? Hidup untuk menyelesaikan jalan hidup yang sudah tersimpan. Menyelesaikan suratan tangan atau takdir yang sudah terekam menjadi nasib. 

Kamu mau menjadi hacker? Mau merubah apa yang sudah menjadi takdirmu? atau kamu mau mati dalam kemiskinan, sementara yang lain sudah menikmati surga di bumi ini? Kamu mau mempunyai pakaian layak untuk keluargamu, atau susu untuk anak-anakmu, atau biaya sekolah hingga perguruan tinggi agar putus tali kemiskinan tujuh turunan keluargamu?

Satu rahasia lagi. Sebenarnya manusia itu seperti Artificial Intelligence. Kamu tau apa itu? orang-orang lebih suka menyebutnya AI. Belum paham juga? Dia kecerdasan buatan. Kecerdasan tapi dibuat. Sudah cerdas, dibuat dengan orang yang lebih cerdas. Luar biasa sekali orang cerdas itu, bisa membuat kecerdasan. Huff, mutar-mutar sekali saya menjelaskannya.

Kamu tahu pemograman hanya dengan memerintahkan sesuatu, maka AI akan melaksanakan sesuai apa yang diperintahkan. Seperti kamu memerintahkan AI untuk menuliskan narasi atau menjawab pertanyaan tentang hal yang belum kamu mengerti. Dia akan menjalankan tugasnya, seperti menulis narasi indah atau menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Jadi paham apa itu cerdas? Seperti menjadi penurut yah, terkekang hanya sebatas perintah dari penciptanya. Tidak bisa berkehendak bebas. Tidak bisa menentukan alur hidupmu di dunia.

Sudah jelas yah. Jadi mengerucut kepada tugas kamu terlahir ke dunia ini, kurang lebih melaksanakan perintah penciptanya. Paham?

Bisa dibilang saya akan mengajak kamu menjadi ‘AI’ yang punya kehendak bebas. Kamu sudah terprogram sebelumnya tapi bagaimana caranya kamu bisa merubah sendiri program itu. Ya, terserah maumu!

Kembali kepada garis tangan, garis nasib, takdir, apa pun itu sebutannya. Saya mengajak kamu untuk menjadi hacker. Jelas, tujuannya adalah merubah nasib yang sudah tersimpan menjadi garis tangan. Merubahnya menjadi apa yang kita mau.

Saya pernah mencoba dengan rapalan doa, tetapi gagal. Tetap saja apa yang saya mau, tidak terwujud. Ada memang beberapa yang menjadi kenyataan tapi saya sangsi, itu bukan hasil dari rapalan doa saya setiap hari. Memang harus seperti itu, memang jalannya begitu.

Anak-anak gamer menyebutnya cheat. Cheat punya banyak arti, seperti curang, kecurangan, bisa juga berarti menyontek. Istilah curang, kecurangan atau mencurangi bagi saya hanya sudut pandangnya saja orang menyebut seperti itu.

Sudah jelas apa yang saya tawarkan ini? Kamu mau mencobanya? Iya memang, saya belum membuktikan keberhasilan cara curang ini, cara merubah nasib ini, tapi saya yakin, seyakin-yakinnya. Mencoba apa salahnya bukan? Lagi pula, kalau pun toh tidak berhasil. Hidupmu yang sekarang ini sudah hancur. Betul?

Atau nantinya jika cara ini berhasil, kamu mau menyebutnya bagian dari suratan takdirmu, tidak apa-apa. Terpenting, kamu sudah terbebas dari nasib buruk, atau garis tangan yang bengkok.

Ok, kita mulai besok saja. Pagi-pagi buta, sekitar jam tiga atau empat. Kita bertemu di ujung dermaga. 

“Kenapa harus pagi-pagi buta?” 

Baik, saya jelaskan. Begini, umpamanya kamu membuat satu robot cerdas. Robot cerdas itu, memiliki limit kecerdasan yang kamu atur sendiri. saya yakin, alasan kamu memprogram limit kecerdasan agar robot cerdas itu, tidak lebih cerdas dari kamu. Sebab itu, kamu memberinya limit. Masa iya, yang diciptanya lebih cerdas dari penciptanya. Tidak mungkin kan?

Jadi, saya akan membantu limit itu kamu atur sendiri. Terserah, mau limit itu tanpa batas atau sekedar menaikkannya sedikit. Tapi ingat, semua ada konsekuensinya pada apa yang kamu pilih. Saran saya, jangan terlalu mencolok. Tahu kenapa? Agar tidak terlihat, karena bisa-bisa kamu di-ctrl+alt+del.

”Lalu mengapa harus pagi-pagi buta!” 

Hatimu makin penasaran ya. Baik-baik, begini. Kamu terlahir miskin. Orang tuamu mewariskan hutang keluarga yang mungkin tujuh turunan kamu, hutang itu belum lunas. Kamu muak dengan perbuatan lurus-lurus. Bab itu, tiga tahun lalu kamu mencuri sepeda motor dinas pak lurah. 

Karena kamu masih pemula dalam hal curi-mencuri. Belum 1x24 jam, kamu sudah digiring ke Polsek. Dipenjaralah kamu. Penjara tidak buat jera. Kalau tidak ketemu saya, kamu berencana mencuri sepeda motor punya Haji Romlah kan?

Bodohnya, kamu tidak belajar mencuri dengan baik. Pasti jadi residivis lah kamu. Saya tahu gelagat kamu, jadi saya lempar pertanyaan ketika tadi berpapasan. Untungnya kamu mau mendengarkan. Intinya kamu ingin merubah nasib buruk. Sudah cukup lelah diremehkan orang lain.

Saya tanya kepada kamu sebagai pencuri yang kurang profesional. Kapan waktu terbaik mencuri?

Waktu mencuri terbaik adalah saat pagi-pagi buta. Saat kesadaran sedang berada dalam frekuensi delta, ketika otak dalam kondisi tertidur lelap tanpa mimpi. Saat seperti ini adalah saat istirahatnya tubuh. Jika dalam komputer menyebutnya shut down.

Tubuh kamu sedang mengalami kondisi penyembuhan diri. Memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Tubuh kamu sedang aktif memproduksi sel-sel baru ketika tidur lelap ini. Jadilah mengapa, pencurian pada kondisi ini, sering tidak diketahui oleh korbannya. Tahu-tahu, barang berharga raib ketika terbangun.

Kita hanya perlu mencari tahu waktu terbaik untuk mencuri program, dan menggantinya dengan program baru yang lebih manusiawi. Lebih manusiawi seperti apa yang kamu mau tentunya. 

Jadi, langit yang terlalu pagi adalah waktu tepat untuk mencuri. Iya, langit yang terlalu pagi adalah kondisi Delta. Bagi semuanya. Bagi seluruh jagad raya ini. Alam, manusia, binatang, tumbuhan, juga hal-hal gaib. Mencuri takdir buruk yang sudah tertulis di garis tangan agar nantinya tidak terbaca oleh sang nasib. Kamu rubahnya terserah dengan apa yang kamu mau.

“Kenapa harus di ujung dermaga?”

Itu improvisasi saya saja. Biar lebih menjiwai dengan mendengar suara ombak kecil gulung-gulung yang menghantam tepian dermaga. Saya menyukai, ombak-ombak di ujung dermaga, terlihat lemah padahal mampu menghancurkan bangunan beton, hingga orang-orang membuat pemecah ombak dari beton, karena jika ombak sudah kompak tidak dipecah belah oleh bangunan pemecah ombak, dia bisa menenggelamkan dan menarik siapa saja yang menghalangi.

Ada saran tempat lebih baik? 

Tidak! Baik, seperti rencana awal. Sekitar pukul tiga atau empat besok pagi kita bertemu di ujung dermaga.

Kamu tidak bertanya apa yang harus dibawa? Harusnya kamu bertanya itu. Ingat, tidak perlu membawanya kembang tujuh rupa dengan telur ayam kampung. Tidak perlu bawa itu ayam cemani. Bawa saja kopi hitam, tanpa gula ya! Kopi buat saya. Saya suka kopi pahit. Bawa dua gelas, satunya untukmu.

Sekarang kamu pulang, tidur dan peluk anak dan istrimu. Oh iya, kamu belum makan malam kan? Anakmu juga? Istrimu juga? Belum ada makanan untuk dimakan keluargamu?

Sabar, kamu harus ikhlas menjalani takdirmu, takdir istrimu, takdir anak-anakmu. Percayalah, besok semua akan berubah. Tidak ada lagi kelaparan pada keluargamu. Hanya malam ini, lewati saja seperti malam-malam lalu kamu bisa melewati rasa laparmu.

Iya seperti itu. Saya suka wajah semangatmu. Saya suka ada harapan yang muncul dari dalam diri. Pertahankan semangat ini. Ingat, hanya malam ini saja. Satu malam lagi karena besok malam semua sudah berubah. Besok malam kamu sudah membuat jalan nasibmu sendiri, nasib keluargamu.

Tidur nyenyak lah. Bawa rasa laparmu ke dalam mimpi. Nikmati irama perut keroncongan.

Pukul tiga pagi di ujung dermaga dengan angin tidak begitu kencang berhembus, sepoi. Mengantarkan gelombang air laut datang perlahan, melambat. Duduk lelaki paruh baya sendiri, pada sampingnya terdapat dua gelas kopi hitam satunya berisikan penuh, satunya tinggal setengah gelas kosong. Di tepian tempat duduk, dua batang rokok masih menyala hampir habis membakar. Wajah lelaki paruh baya itu diisi penuh harapan hingga melupakan kerutan pada bagian samping-samping matanya.

Lelaki paruh baya itu memandang langit yang terlalu pagi. Kepalanya menengadah ke atas, dilihatnya langit bersih, seperti baru dibilas, oleh siapa entah. Tampak bintang-bintang saling membalas kerlip seperti berkomunikasi dengan sandi-sandi morse antar bintang.

Dia berbincang sendiri, kemudian tatapannya berpindah pada kedua tangannya yang secara bersamaan diangkat ke atas. Jari menari, mengetik pada ruang udara pagi sementara mulutnya merapal suara lirih tersamarkan deru ombak yang menghantam beton ujung dermaga. Kemudian binar matanya terpancar dan senyumnya melebar menyiratkan suatu keberhasilan yang tak sabar untuk dirayakan.















Tentang Penulis


Wiwit Putra Bangsa lahir di Bandung. Menulis menjadi kebiasaannya untuk mengeluarkan sesaknya segala yang ada di kepala agar tidak terlalu penuh dan berat. Menulis Buku Orang-orang Tersesat (2021) dan beberapa tulisannya terbit di media online. Puisinya berjudul Liana menjadi juara satu kompetisi online tingkat nasional tahun 2023.


Biodata Penulis

Nama : Wiwit Putra

Alamat : Jalan Pasar Pon Selatan No. 19A Rt. 003 Rw. 002 Kelurahan Bantarsoka 

  Kecamatan Purwokerto Barat Kabupaten Banyumas Jawa Tengah 

  Kode Pos 53133

Akun Medsos : - Instagram wiwitputrabangsa

     - Facebook Wiwit Putra

     - You Tube Wiwit Putra Bangsa




Posting Komentar

0 Komentar